Tradisi Perang Pandan di desa Tenganan

Perang Pandan Desa Tenganan

Terdengar sangat mengerikan mengingat duri pandan yang tajam dan menyakitkan bila terkena tubuh kita. Akan tetapi berbeda dengan warga Desa Adat Tenganan, desa yang berada di kabupaten Karangasem Bali ini mempunyai tradisi yang unik yaitu tradisi perang pandan, Mereka terlihat begitu bergembira dan menikmati melakukan perang yang menggunakan pandan tersebut!!

Perang pandan merupakan salah satu tradisi yang hanya ada di Desa Tenganan, Kecamatan Karangasem, Bali. Perang pandan juga disebut dengan istilah Makere-kere. Upacara perang pandan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan asing.  Perang pandan merupakan bagian dari ritual Sasih Sembah. Sasih Sembah ialah ritual terbesar yang ada di Desa Tenganan. Desa tenganan merupakan salah satu desa tertua yang ada di pulau Bali. Desa ini dikelilingi oleh bukit seperti benteng. Ritual perang pandan dilakukan di depan balai pertemuan desa Tenganan Masyarakat Desa Tenganan memiliki kepercayaan yang berbeda dari masyarakat Bali pada umumnya. Masyarakat di Desa Tenganan merupakan penganut agama Hindu Indra. dimana masyarakan desa Tenganan menempatkan Dewa Indra sebagai Dewa tertinggi.  Pemeluk agama Hindu Indra tidak membedakan umatnya dalam kasta.  Masyarakat Tenganan percaya bahwa desa yang mereka tempati merupakan hadiah dari ‘Dewa Indra’.

Perang Pandan Sebagai Bentuk Penghormatan Kepada Dewa Indra

Perang pandan di lakukan sebagai bentuk penghormatan untuk Dewa Indra, dimana pada jaman dahulu daerah Tenganan di pimpin oleh seorang raja yang kejam bernama Maya Denawa.  Maya Denawa menganggap dirinya sebagai seorang Dewa. Selain menganggap dirinya Dewa, Maya Denawa juga melarang masyarakat Tenganan untuk melakukan ritual keagamaan. Pengakuan Maya Denawa sebagai dewa membuat murka para Dewa, kemudian Dewa Indra diutus untuk melawan Maya Denawa. Peperangan antara Maya Denawa dengan Dewa Indra pun terjadi. dan peperangan dimenangkan oleh Dewa Indra. Peperangan antara Maya Denawa dan Dewa Indra tersebut kini di peringati masyarakat di Desa Tenganan dengan melakukan upacara perang pandan, karena Dewa Indra adalah Dewa perang.

Hari Pelaksanaan Tradisi Perang Pandan Desa Tenganan

Perang pandan dilakukan setiap bulan kelima atau sasih kalima dalam penanggalan desa adat Tenganan. Ritual perang pandan berlangsung kurang lebih selama dua hari berturut-turut. Upacara ritual ini dilakukan setiap satu tahun sekali.

Alat Musik Asli Desa Tenganan

Tradisi perang pandan, dilakukan dengan menggunakan pandan berduri sebagai alat atau senjata untuk berperang. Pandan berduri yang digunakan adalah pandan yang sudah diikat sehingga berbentuk seperti gada, Peserta perang pandan juga sebuah tameng. Tameng tersebut digunakan untuk melindungi diri dari serangan lawan, tameng yang digunakan pada perang pandan tersebut terbuat dari rotan yang di anyam sedemikian rupa berbentuk tameng atau perisai. Perang pandan sendiri diiringi musik gamelan yang di sebut dengan Seloding, yang merupakan alat musik daerah Tenganan. Alat musik Selonding hanya boleh dimainkan oleh orang yang disucikan, dan tidak sembarangan dimainkan, hanya dimainkan pada acara tertentu saja. Alat tersebut memiliki pantangan yang tidak boleh dilanggar yaitu tidak boleh menyentuh tanah. Perang pandan dilakukan oleh pemuda desa Tenganan dan luar desa Tenganan. Pemuda dari dalam desa berperan sebagai peserta perang pandan, sedangkan pemuda dari luar desa sebagai peserta pendukung. Anak-anak yang sudah mulai beranjak dewasa juga sudah turut ambil bagian dalam upacara ini. Upacara ini juga dapat menjadi simbol seorang anak sudah beranjak dewasa

Ritual Minum Tuak Dan Megibungan

 Sebelum melaksanakan upacara perang pandan, terlebih dahulu masyarakat mengelilingi desa untuk memohon keselamatan kepada Dewa. Setelah mengelilingi desa, dilanjutkan dengan ritual minum tuak (nira) bersama. Tuak kemudian di kumpulkan bersama dan dibuang di sebelah panggung. Pemangku (pendeta) adat akan memberikan aba-aba tanda perang dimulai, Perang dilakukan oleh dua orang, Peserta perang pandan akan menari-nari dan sesekali menyabetkan pandan berduri pada peserta lain lalu bergantian dengan pasangan lainya.  Meskipun tubuh penuh luka dan berdarah, semua peserta tetap terlihat senang.  Setelah perang selesai peserta yang terluka diolesi ramuan tradisional yang terbuat dari kunyit. dan di lanjutkan dengan sembahyang bersama di Pura setempat. Meskipun tubuh peserta perang pandan penuh luka, tetapi tidak ada dendam di antara mereka. Hal tersebut disimbolkan dengan makan bersama yang menunjukkan kebersamaan, Acara makan bersama tersebut di sebut dengan ”megibung”.

Hasil Kerajinan Khas Desa Tenganan

Desa Tenganan selain terkenal dengan tradisi perang pandanya, desa ini juga terkenal dengan kerajinan kain tenun’nya yang di sebut dengan kain tenun ”Pegringsingan”. Kain tenun produksi rumahan penduduk desa Tenganan yang bernilai tinggi ini pengerjaannya menggunakan tehnik ikat ganda atau dobel ikat, yang proses pengerjaanya memerlukan waktu yang cukup lama.

 Kain tenun Gringsing memiliki nilai seni dan mutu yang luar biasa. Penamaannya berasal dari bahasa Bali dengan asal kata “Gring” berarti sakit dan “Sing” artinya tidak, sehingga secara utuh menjadi kata “tidak sakit” diartikan sebagai penolak bala, makanya setiap ada upacara keagamaan seperti pernikahan, potong gigi digunakan kain tersebut yang diyakini bisa mendapatkan perlindungan, memiliki kekuatan magis untuk menghindarkan diri dari pengaruh-penmasyarakat sampai sekarang. Hasil gambar untuk kain gringsing

Warna kain Gringsing sendiri menggunakan pewarna alami, dengan perpaduan tiga warna yaitu warna merah yang berasal dari ‘babakan’ (kelopak pohon) Kepundung putih (Baccaurea racemosa) yang dicampur dengan kulit akar mengkudu (Morinda citrifolia). Warna kuning dari campuran minyak buah kemiri berusia tua (± 1 tahun) yang dicampur dengan air serbuk kayu, dan warna hitam dari pohon Taum.

Peta lokasi Desa Tenganan

Obyek Wisata Menarik Yang Patut Di Kunjungi

Selain Obyek wisata Desa Tenganan, ada beberapa obyek wisata di daerah kabupaten Karangasem yang patut anda kunjungi, seperti ;

  • Obyek wisata Candi Dasa,
  • Taman Ujung, Tirta Gangga,
  • Pantai pasir putih, pantai Virgin,
  • Pura Luhur Lempuyang,
  • Desa Amed,
  • Desa Tulamben,

Dan masih banyak lagi obyek wisata yang bisa anda kunjungi di daerah ini.  untuk mempermudah melakukan perjalanan wisata di daerah tersebut, saya sarankan anda untuk memakai jasa sewa mobil dengan sopir yang berpengalaman, dan tentunya tidak akan membuang buang waktu anda dalam pencarian obyek wisata tersebut,dan menjadikan liburan anda lebih bermakna, oleh karena itu Sewa mobil murah di bali seperti Bali Bintours siap melayani anda.

Selamat berlibur di BALI

Balibintours

Comments

comments

This Post Has 3 Comments

  1. bali bintours

    Good evening…
    , its my pleasure ,
    Thankyou
    Balibintours

Comments are closed.